Google+ Followers

Google+ Followers

Minggu, 23 Juni 2013

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data
Data artinya informasi yang didapat melalui pengukuran-pengukuran tertentu, untuk digunakan sebagai landasan dalam menyusun argumentasi logis menjadi fakta. Sedang fakta itu sendiri adalah kenyataan yang telah diuji kebenarannya secara empirik, antara lain melalui analisis data (Fathoni, 2006:104).
Menurut Sugiono (2010:62) “metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah pengumpulan data.” Tanpa mengetahui metode pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang di tetapkan.
Sedangkan pendapat Suharsimi Arikunto (2010:265) “mengumpulkan data adalah pekerjaan yang penting dalam langkah penelitian, terutama apabila peneliti menggunkana metode yang memiliki cukup besar celah untuk dimasuki unsur minat peneliti.”
Secara metodologis dikenal beberapa macam teknik pengumpulan data, yaitu:
1.      Observasi
2.      Wawancara
3.      Angket
4.      Dokumentasi
5.      Tes
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (angket/kuesioner, wawancara/interview, pengamatan/observasi, ujian/tes, dokumentasi). Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya (angket/kuesioner, daftar cocok/checklist atau pedoman wawancara, lembar pengamatan atau panduan pengamatan, soal tes, skala bertingkat).
Instrumen berhubungan erat dengan cara/alat untuk mengumpulkan data, sedangkan metode pengumpulan data adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data. Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digumnakan dalam mengumpulkan data tersebut.
Banyak di antara orang yang belum paham benar akan penelitian, mengacaukan dua penelitian ini. Hal ini sering salah diperbuat oleh mahasiswa yang menyusun skripsi atau tesis menyebutkan “metode pengumpulan data adalah pedoman wawancara”. Jelas ini salah, instrument adalah alat pada waktu penelitian menggunakan sesuatu metode. Untuk beberapa metode, kebetulan istilah bagi instrumennya memang sama dengan nama metodenya.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa peneliti di dalam menerapkan metode pengumpulan data menggunakan instrument atau alat, agar data yang diperoleh lebih baik.
Pasangan Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
No.
Jenis Metode
Jenis Instrumen
1
Angket (questionnaire)
Angket (questionnaire)
Daftar cocok (checklist)
Skala (scala), inventori (inventory)
2
Wawancara (interview)
Pedoman wawancara (interview guide)
Daftar cocok (checklist)
3
Pengamatan/Observasi(Observation)
Lembar Pengamatan, panduan pengamatan, panduan observasi (observation sheet, observation schedule), (checklist).
4
Ujian/Tes (test)
Soal ujian, soal tes atau tes (test), inventori(inventory).
5
Dokumentasi                        
Daftar cocok (checklist) dan Tabel

Tugas peneliti dalam pengumpulan data adalah:
a)      memilih subjek
Subjek dapat dipilih selama pengumpulan data. Penentuan pemilihan subjek bergantung pada rancangan penelitian yang digunakan peneliti.
b)      mengumpulkan data secara konsisten
Konsep agar pengumpulan data dapat akurat adalah, perlunya suatu konsistensi. Konsistensi itu perlu untuk mempertahankan pola pengumpulan data pada setiap tahap berdasarkan rencana yang telah ditetapkan.
c)      mempertahankan pengendalian dalam penelitian
ü  Memilimalkan terjadinya bias pada hasil penelitian.
ü  Peneliti perlu memperhatian variabel-variabel baru yang mungkin timbul selama pengumpulan data.
ü  Jika variabel-variabel yang tidak di prediksikan terjadi, maka penelitian harus menuliskan dalam hasil untuk dijadikan kajian penelitianlebih lanjut oleh peneliti selanjutnya atau
ü  sebagai suatu keterbatasan dalam penelitian.
d)     menjaga integritas dan validitas
ü  Mempertahanan konsistensi dan pengendalian selama pengumpulan data.
ü  Peneliti harus cermat terhadap adanya sikap perubahan atau upaya merubah suatu rencana yang telah di tetapkan agar tidak terjadi ketidaksinambungan.
e)       menyelesaikan masalah
Perlu adanya orang lain (pembimbing) untuk memberikan masukan dan berdiskusi untuk mencari jalan keluar yang terbaik, agar tujuan penelitian dapat dicapai

 Metode Pengumpulan Data Kualitatif
Peneliti kualitataif bergulat dengan data yang bersifat lunak. Disebut lunak karena data yang ada bersifat abstrak, tidak tampak, atau tidak dapat dihitung satuan fisiknya. Diperlukan ketajaman untuk mencandra (menggambarkan) data karena setiap fenomena atau peristiwa bisa menjadi data apabila dilihat dari sudut pandang tertentu, disertai dengan ketajaman pemikiran dan pencandraan dari seorang peneliti kualitatif.
Berikut ini metode-metode yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian kualitatif:
1.      Wawancara
Menurut Esterberg (2002) dalam buku Sugiono, mendefinisikan interview sebagai berikut:
a meeting of two persons to exchange information and idea trough question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic.” Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Susan stainback (1988) dalam Sugiono mengemukakan bahwa :
Interviewing provide the researcher a means to gain a deeper understanding of how the participant interpret a situation or phenomenon than can be gained through observation alone.” Jadi dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini bisa ditemukan melalui observasi.
Sedangkan pendapat Gorys Keraf (1989: 161) “wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung pada seorang informan atau seorang autoritas (seorang ahli/ yang berwenang dalam suatu masalah).”
Adapun menurut A. Fathoni (2006: 105), wawancara adalah tekhnik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara.
Wawancara adalah metode yang digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung, mendalam bentuknya bisa terstruktur dan individual. Jadi dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.
Adapun jenis-jenis  wawancara antara lain:
a)      secara fisik:
ü  wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan oleh pewawancara apabila dia benar-benar mengetahui informasi yang dibutuhkan dan telah menentukan daftar dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan pada responden,
ü  wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dimana responden diberikan kebebasan mengekspresikan pikiran atau tanggapannya dengan lebih bebas
b)      berdasarkan pendekatan atau cara
ü  wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara tatap muka,
ü  wawancara tidak langsung adalah wawancara yang dilakukan bukan secara tatap muka, melainkan melalui saluran komunikasi jarak jauh misalnya: telepon, imternet atau radio.
c)      Berdasarkan sistem kegiatan yang dilaksanakan
ü  wawancara berstandar adalah wawancara yang direncanakan berdasarkan pedoman atau daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dulu,
ü  wawancara tidak berstandar adalah wawancara yang tidak direncanakan berdasarkan pedoman atau daftar pertanyaan yang dipersiapkan terlebih dulu,
ü  wawancara sambil lalu adalah wawancara yang objek sasarannya tidak diseleksi terlebih dulu melalui metode sampling tertentu tetapi dipilih secara aksidental
d)     berdasarkan pertanyaan yang digunakan
ü  wawancara terbuka adalah wawancara yang menggunakan kuesioner terbuka, kuesioner yang memberikan keleluasaan kepada responden untuk memberikan jawaban dengan bebas tanpa dibatasi alternatif jawaban yang ditentukan,
ü  wawancara  tertutup adalah wawancara yang menggunakan kuesioner tertutup, kuesioner yang alternatif jawabannya telah disediakan,
ü  wawancara semi tertutup adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner yang memberikan kesempatan kepada responden untuk mengemukakan jawaban lain atau keterangan tambahan disamping alternative jawaban yang tersedia.

2.      Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiono, 2009:199).
Sedangkan pendapat Abdurrahmat Fathoni (2006:111) “Angket adalah teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner (daftar pertanyaan/isian) untuk diisi langsung oleh responden seperti yang dilakukan dalam penelitian untuk menghimpun pendapat umum.”
Jenis-jenis kuesioner:
a.       Dari cara menjawab: (1) kuesioner terbuka, yamg memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri, (2) kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
b.      Dari jawaban yang diberikan: (1) kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya, (2) kuesioner tidak langsung yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.
c.       Dari bentuknya: (1) pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup, (2) check list, yaitu sebuah daftar dimana responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai, (3) rating-scale atau skala bertingkat, yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukan ke tingkatan-tingkatan misalnya, mulai dari sangat setuju, setuju, sampai tidak setuju.
d.      Dari cara/media memberi pertanyaan: (1) kuesioner individu, dengan metode ini periset secara langsung bertatap muka dengan responden yang disurvei, (2) kuesioner melalui internet, survei ini di jalankan dengan membagi surat berisi kuesioner kepada responden yang akan diteliti.
Uma Sekaran (1992) dalam Sugiono mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
1.      Prinsip penulisan angket
Prinsip ini menyangkut beberapa factor yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka-negatif positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahakan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.
a.       Isi dan tujuan pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variable yang diteliti.
b.      Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalm penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun dengan bahasa Indonesia. Jadi bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan social budaya, dan “frame of reference” dari responden.
c.       Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup (kalau dalam wawancara : terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negative.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Contoh: bagaimanakah tanggapan anda terhadap iklan-iklan di TV saat ini? Sebaliknya pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang mengaharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawaban berbentuk data nominal, ordinal, interval, dan ratio adalah bentuk pertanyaan tertutup.
Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat, dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan/pernyataan dalam angket perlu dibuat kalimat positif dan negative agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistik.
d.      Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
Contoh:
Bagaimana pendapat anda tentang kualitas dan relevansi pendidikan saat ini? Ini adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekligus, yaitu kualitas dan relevansi. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua yaitu: bagaimanakah kualitas pendidikan? Bagaimanakah relevansi pendidikan?
e.       Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrument angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.
Contoh:
Bagaimanakah kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu? Menurut anda, bagaimanakah cara mengatasi krisis ekonomi saat ini? (kecuali penelitian yang mengharapkan pendapat para ahli). Kalau misalnya umur responden yang diberi angket baru 25 tahun, dan pendidikannya rendah, maka akan sulit memberikan jawaban.
f.       Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja. Misalnya: bagaimanakah prestasi belajar anda selama di sekolah dulu? Jawaban responden tentu cenderung akan menyatakan baik. Bagaimanakah prestasi kerja anda selama setahun terakhir? Jawabannya akan cenderung baik.
g.      Panjang pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variable banyak, sehingga memerlukan instrument yang banyak, maka instrument tersebut dibuat bervariasi dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya. Disarankan empiric jumlah pertanyaan yang memadai adalah antara 20 s/d 30 pertanyaan.
h.      Urutan pertanyaan
Ururtaan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikhologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberi pertanyaan yang sulit, atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket yang telah mereaka terima. Urutan pertanyaan ayng diacak perlu dibuat bila tingakat kematangan responden terhdap masalah yang dinyatakan sudah tinggi.
i.        Prinsip pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrument penelitian, yang digunakan untuk mengukur variable yang akan diteliti. Oleh karena itu instrument angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variable yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan pada responden, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Instrument yang tidak valid dan reliabel bila yang tidak valid dan reliabel pula.
j.        Penampilan fisik angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.
Keuntungan dan Kelemahan Kuesioner
Keuntungan:
F Tidak memerlukan hadirnya peneliti
F Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden
F Dapat dijawab oleh responden menurut ketercapaiannya masing-masing dan menurut waktu senggang responden
F Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab
F Dapat dibuat terstandar bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama.
Kelemahan:
F Responden sering tidak teliti dalam menjawab
F Sering kali sulit dicarikan validitasnya
F Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur.
F Sering kali tidak kembali terutama dikirim lewat pos
F Waktu pengembaliannya tidak bersama-sama.

3.      Observasi
Suharsimi (2010:272) “bahwa sanya mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat.”
“Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran” (Abdurrahman Fathoni, 2006: 104).
Observasi seringkali diartikan sebagai suatu aktivitas sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Didalam pengertian psikologi observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan alat indera. Dalam arti penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara. Observasi dapat dilakukan dengan 2 cara yakni:
a.       Observasi non sistematis; yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan,
b.      Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
Macam-macam observasi
1.      Observasi partisipatif
Adalah observasi yang dilakukan dimana peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Observasi partisipatif dapat digolongkan menjadi 4, yakni: (1) partisipasi pasif, dalam hal ini peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetpai tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut, (2) partisipasi moderat, adanya keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar, (3) partisipasi aktif, dalam hal ini peneliti ikut melakukan apa yang dialkukan apa yang dilakukan narasumber, (4) partisipasi lengkap, dalam hal ini peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data.
2.      Observasi terus terang atau tersamar
Adalah penelti melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data bahwa ia sedang melakukan penelitian.
3.      Observasi tak berstruktur
Adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.
Tahap-tahap observasi menurut Spradley dalam buku Sugiono (2010: 69) terbagi menjadi tiga yakni:
1.      Observasi deskriptif, observasi ini dilakukan peneliti pada saat ,memasuki situasi social tertentu sebagai objek penelitian. Peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap apa yang didengar, dilihat dan dilakukan.
2.      Observasi terfokus, peneliti melakukan observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu.
3.      Observasi terseleksi, pada tahap ini peneliti telah menguraikan focus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci.



4.      Dokumentasi
“Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang” (Sugiono 2009:329).
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebiijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya forto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dpat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.
“Studi dokumentasi ialah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden, seperti yang dilakukan oleh seorang psikolog dalam meneliti perkembangan seorang klien melalui catatan pribadinya” (Abdurahmat fathoni 2006: 112).
“Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya” (Suharsimi arikunto 2002:206).
Dibandingkan dengan metode lain maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. 

 Metode Pengumpulan Data Kuantitatif
Terdapat beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif. Macmillan & Sally Schumacher mengelompokkan metode pengumpulan data kuantitatif dalam beberapa jenis, yakni:
1.      Paper and Pencil Tests
Menurut MacMilan & Schumacher (2010: 250),istilah paper and pencil tests diartikan sebagai 
a standard set of questions is presented to each subject in writing (on paper or computer) that requires completion of cognitive task” . Tes tertulis diartikan sebagai seperangkat pertanyaan yang disajikan kepada setiap subyek penelitian dalam bentuk tertulis (pada kertas atau komputer) yang menghendaki penyelesaian tugas kognitif. Tugas kognitif yang dimaksudkan dapat terfokus pada apa yang diketahui seseorang (achievement), kemampuan belajar(ability or aptitude), memilih atau seleksi (interests, attitudes, or value) atau kemampuan mengerjakan sesuatu (skills).
Saat ini terdapat banyak bentuk tes yang telah terstandar. Bentuk tes ini telah disediakan oleh ahli pengukuran dan memiliki kesamaan prosedur dalam administrasi dan pengskoran. Walaupun telah banyak bentuk tes yang telah distandarkan, kita tidak mungkin langsung mengambil salah satu bentuk tes tersebut begitu saja untuk dijadikan alat pengumpulan data pada penelitian yang akan kita lakukan. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian bertujuan untuk mengukur sesuatu hal yang spesifik yang belum tentu sesuai dengan bentuk tes yang telah tersedia.  Oleh karena itu diperlukan kemampuan agar mampu mengkonstruksi sendiri bentuk tes yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.
Terdapat dua kriteria dalam penilaian yakni norm-referenced dan criterion referenced. Pada norm-referenced atau penilaian acuan normatif (PAN), interpretasi datanya berdasarkan referensi kelompok. Sedangkan padacriterion-referenced atau penilaian acuan patokan (PAP), proses interpretasinya berdasarkan seperangkat kriteria yang telah ditetapkan.
Bentuk soal tes yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1.      Pilihan ganda :  Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif,  dan bisa dikoreksi dengan komputer.
Kelemahannya: (1) membuat butir soal pilihan ganda yang berkualitas baik cukup sulit,  (2) adanya peluang kerja sama peserta antar tes sangat besar. Oleh karena itu, bentuk ini dipakai untuk ujian yang melibatkan banyak  peserta didik dan waktu untuk koreksi relatif singkat. Penggunaan bentuk ini  menuntut agar pengawas ujian teliti dalam melakukan pengawasan saat ujian  berlangsung. Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi tergantung pada  kemampuan pembuat soal (Ebel, l979).  Soal pilihan ganda memiliki beberapa tipe yaitu :
a.       melengkapi pilihan ( dengan 4 atau 5 option )
Soal obyektif jenis ini terdiri dari pokok soal (stem) yang berupa pernyataan  yang belum lengkap atau suatu pertanyaan yang dilengkapi dengan 4 atau 5  kemungkinan jawaban yang disebut option. Tugas siswa adalah memilih jawaban  yang benar ( sesuai kunci ). Option selain kunci jawaban disebut sebagai  pengecoh (distractor). Contoh :
Di antara pernyataan di bawah ini, yang benar mengenai kepemimpinan adalah..
1.      kegiatan mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan
2.      kegiatan memaksa bawahan untuk berupaya mencapai tujuan
3.      orang yang mampu mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan
4.      seni memaksa bawahan untuk meningkatkan motivasi  merupakan kegiatan non utama untuk mencapai tujuan
2.      Analisis hubungan antar hal
Soal jenis ini terdiri dari 2 kalimat pernyataan , yang dihubungkan dengan  kata SEBAB. Kedua kalimat bisa merupakan sebab akibat, bisa juga keduanya  benar tetapi tidak berhubungan, bisa salah satu benar, dan bisa juga keduanya  salah. Contoh : Motivasi adalah salah satu seni penting yang harus  dikuasai oleh seorang pimpinan SEBAB Kemampuan memotivasi bawahan adalah salah satu cara untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang mau dan mampu bekerja
3.      Melengkapi berganda
Soal jenis ini hampir sama dengan tipe soal melengkapi pilihan, hanya saja  diikuti dengan empat kemungkinan jawaban benar dan  siswa diminta untuk  memilih jawaban-jawaban yang benar. Contoh : Kegiatan evaluasi terdiri dari: (1) menguku,  (2) menilai, (3) memberikan hasil, (4) persiapan.
4.      Uraian objektif  
Agar hasil penskorannya objektif diperlukan pedoman penskoran, Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar  jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian. Tingkat berpikir yang diukur bisa sampai pada tingkat yang tinggi.  Penskoran dilakukan secara analitik, yaitu setiap langkah pengerjaan diberi skor. Misalnya, jika peserta didik menuliskan rumusnya diberi skor, menghitung hasilnya diberi skor, dan menafsirkan atau menyimpulkan hasilnya, juga diberi skor. Penskoran bersifat hierarkhis, sesuai dengan langkah pengerjaan soal. Bobot skor untuk tiap butir soal ditentukan oleh tingkat kesulitan butir soal, yang sulit bobotnya lebih besar dibandingkan dengan yang mudah. 
5.      Uraian non-objektif/uraian bebas : 
·         Bentuk ini cocok untuk bidang studi ilmu-ilmu sosial. 
·         Walau hasil penskoran cenderung subjektif, namun bila disediakan pedoman penskoran yang jelas, hasilnya diharapkan dapat lebih objektif.
·         Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi. 
·         Bentuk ini bisa menggali informasi kemampuan penalaran, kemampuan berkreasi atau kreativitas peserta didik, karena kunci jawabannya tidak satu.
6.      Jawaban singkat atau isian singkat
Bentuk ini cocok digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik jumlah materi yang diuji bisa banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah.
7.      Menjodohkan
Bentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berpikir yang terlibat cenderung rendah.
8.      Performans
Bentuk ini cocok untuk mengukur kemampuan seseorang dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktek di  laboratorium. Peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan.
9.        Portfolio
Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik, dengan menilai kumpulan karya-karya, atau tugas yang dikerjakan peserta didik. Portfolio berarti kumpulan karya atau tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik (Popham, 1985).  Karya-karya ini dipilih kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan peserta didik. Cara ini bisa dilakukan dengan baik bila jumlah peserta didik yang dinilai tidak banyak.


2.      Wawancara
“Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin  melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya lebih sedikit” (Sugiono, 2009:194)
Pada dasarnya wawancara dalam metode penelitian kualitatif dan kuantitatif hampir sama hanya disesuaikan dari topik tujuan penelitian itu sendiri. Tujuan dari wawancara kuantitatif adalah untuk menstandarkan apa yang disajikan kepada narasumber. Standarisasi ini akan dicapai ketika apa yang dikatakan oleh semua narasumber itu sama atau hampir sama. Ide utamanya adalah bahwa peneliti kuantitatif  ingin mengungkap setiap narasumber untuk stimulus yang sama sehingga hasilnya dapat dibandingkan. Hasil wawancara kuantitatif kebanyakan merupakan data kuantitatif sehingga dapat dianalisis menggunakan prosedur statistika kuantitatif.  Hal ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaannya bersifat open-ended  yang tentu saja sama untuk semua responden. Wawancara pada penelitian kuantitatif kelihatannya hampir sama dengan kuesioner. Dalam kenyataannya, banyak peneliti menyebut interview protocol sebagai kuesioner.

3.      Kuesioner (angket)
“Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya” (Sugiono, 2009:199)
Sedangkan pendapat Abdurrahmat Fathoni (2006:111) “Angket adalah teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner (daftar pertanyaan/isian) untuk diisi langsung oleh responden seperti yang dilakukan dalam penelitian untuk menghimpun pendapat umum.”
Pada dasarnya metode pengumpulan angket/kuesioner dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif itu hampir sama hanya yang membedakan yaitu disesuaikan dengan topik penelitian dan tujuan penelitian. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup  besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka , dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet.

4.      Observasi
Sutisno hadi (1986) dalam sugiono mengemukakan bahwa:
“ observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan phisikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.”
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, obseravasi dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:
1)      Observasi berperanserta (participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
2)      Observasi nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam, dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.

a.       Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Dalam malakukan pengamatan peneliti menggunakan instrument penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk melakukan observasi.
b.      Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrument yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu rambu pengamatan.
Pada observasi kuantitatif berkaitan dengan standarisasi semua prosedur observasi untuk mendapatkan data penelitian yang reliabel. Standarisasi ini meliputi siapa yang diobservasi, kapan observasi dilakukan, dimana observasi dilakukan dan bagaimana kegiatan observasi berakhir. Observasi kuantitatif biasanya menghasilkan data kuantitatif seperti jumlah atau frekuensi dan persentase.

Sumber Rujukan
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Danim, S. (2002). Menjadi Peneliti Kualitatif Ancangan Metodologi, presentasi, dan Publikasi Hasil Penelitian untuk Mahasiswa dan Peneliti Pemula Bidang Ilmu-ilmu Sosial, Pendidikan, dan Humaniora. Bandung: Pustaka Setia.
Fathoni, A. (2006). Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys, (1989). Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Sugiono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar